Betun, KontasMalaka.com, Pangan lokal di Kabupaten Malaka belum diolah secara variatif. Tim Penggerak PKK Kabupaten Malaka menggelar latihan olah pangan lokal berbahan pisang dan jagung.

Ketua TP PKK Kabupaten Malaka, Ny. drg. Maria Martina Nahak, M.Biomed dalam sekapur sirih pada pelatihan pemanfaatan potensi pangan lokal berbahan pisang dan jagung untuk meningkatkan perekonomian di aula Susteran SSpS Betun, Senin (27/11/23) mengatakan TP PKK sebagai mitra pemerintah menggelar kegiatan pelatihan pemanfaatan pangan lokal untuk menambah penghasilan ekonomi dan kesehatan keluarga.

Latihan ini dilakukan, karena pangan lokal belum diolah secara variatif dengan aneka jenis dan rasa dari bahan seperti pisang dan jagung. Adanya latihan ini, bahan lokal seperti pisang dan jagung diolah untuk jenis yang beraneka ragam yang memiliki nilai ekonomis dan kesehatan dalam rangka bisa mencegah stunting.

Sehingga, pelatihan ini akan memberikan modal pengetahuan dan keterampilan kepada para peserta. “Sekarang tinggal saja peserta mengikuti dan mencobanya di rumah dan membentuk kelompok untuk mengolah bahan lokal yang memiliki nilai tambah baik secara ekonomis maupun kesehatan,” kata Ny Maria Martina.

Narasumber Dr. Dewa Nyoman Sudita, MP, pakar pertanian Universitas Warmadewa Denpasar Bali dalam sambutannya mengatakan Kabupaten Malaka memiliki potensi pertanian dan peternakan. Sepanjang jalan ditemukan begitu banyak pisang dan lahan jagung yang luas.

Potensi-potensi ini perlu diolah karena memiliki nilai tambah mendorong dan menggerakan perekonomian dan kesehatan masyarakat. “Sehingga, kami datang ke sini untuk membagi pengalaman, ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat Malaka,” kata Dewa Nyomam Sudita.

Bupati Malaka, Dr..Simon Nahak, SH, MH melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Malaka, Agustinus Nahak, S.Ip dalam sambutannya mengatakan pemerintah hanya memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan masyarakat untuk meningkatkan kehidupan ekonomi.

Adanya pelatihan ini, para peserta bisa memanfaatkan kesempatan secara baik untuk menimba ilmu, pengetahuan dan keterampilan. Karena dengan ilmu, orang bisa bekerja efektif dan efisien. “Katakan saja, selama ini bisa menanam dua kali. Tapi dengan ilmu, bisa menanam setiap hari. Sehingga, para peserta yang dibekali harus melanjutkan kegiatan ini setibanya di rumah untuk meningkatkan ekonomi dan kesehatan keluarga,” jelas Agustinus.

Ny. Sumarni Lydia Un Muti dalam dalam laporan kegiatan panitia mengatakan pengolahan pangan lokal belum variatif saat ini, dimana masih sebatas jagung bose jagung titi dan kripik pisang. Dengan latihan ini, bisa dihasilkan jenis produksi baru di antaranya susu jagung dan pisang dodol. Pangan lokal yang diolah diharapkan memiliki nilai higienis, aman, nyaman dan berdaya saing untuk memberikan pendapatan dan meningkatkan ekonomi keluarga.

Kegiatan pelatihan tersebut menghadirkan empat narasumber yang berasal dari Universitas Warmadewa Denpasar Bali masing-masing Prof. Ir. Luh Suriati, M.Si, Dr. Dewa Nyoman Sudita, MP, Dr. Ni Made Ayu Suardani, STP, M.Si, Dr. Ir. Gede Pasek Mangku, MP. (pyn)